• Breaking News

    Loading...

    Friday, May 3, 2013

    Inilah Sebab dilarangnya meyingkat Salam menjadi " As Wr Wb, SAW, SWT, Ra, As" dll

    inilah sebab dilarangnya menyingkat salam, solawat dll

    Masih dalam Topik Renungan, ya... berhubung suami sedang ada tugas diluar kota jadi memanfaatkan waktu untuk menulis dan berbagi lewat blog. setelah kemaren merenungi Nikmat yang sering terlupakan sekarang ada lagi yang ingin saya share tentang Menyingkat salam, SAW, SWT dll. Mungkin diantara sobat semua ada yang bertanya mengapa dalam setiap tulisan saya dalam penggunaan kata Assalamualaikum, atau shollallohu'alahi wassallam selalu lengkap /tidak disingkat saja kan lebih cepat gitu ya... itu sengaja karena ada beberapa alasan mengapa kita tidak boleh menyingkat salam, sholawat dll. dan inilah sebab dilarangnya menyingkat Salam menjadi " As.Wr.Wb, atau SAW dan yang lainnya sebagai berikut:
    1. Coba kita ingat ingat saat menulis salam atau yang lainnya seperti yang saya sebutkan diatas, saat kita menulis di blog atau sms atau status fb atau yang lainnya pasti didalam hati kita pun mengatakan apa yang kita tulis, saat kita menulis salam dengan As, Wr.Wb, hati kita pun mengatakan As.Wr.Wb sedangkan tujuan dari salam adalah mendo'akan saudara kita , jika kita benar benar ikhlas mendo'akannya dengan menyampaikan salam tentunya kita harus mengucapkan kalimat tersebut dengan sempurna karena bukan hanya kita yang menulis tapi para pembaca tulisan kita pun akan membaca As.Wr.Wb bukan "Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatu" begitu juga dengan solawat kita kepada Rhosululloh Shollallohu alaihi wassallam, jika kita menulisnya dengan SAW kemungkinan besar hati kita juga tidak membaca solawat  tapi hanya SAW saja sedangkan membaca solawat kepada Nabi merupakan Adab kita kepada Beliau para Nabi dan Rhosul.
    2. Fatwa syeikh Wasiyulloh Abbas ( ulama di masjidil harom pengajar di ummul Quro): " Tidak boleh menyingkat salam secara umum dalam tulisan, sebagaimana tidak boleh juga menyingkat solawat dan salam kepada Rhosululloh Shollallohu alaihi wassallam, tidak boleh menyingkat pula yang selain ini dalam pembicaraan."
    3. Fatwa Lajnah Ad-Daimah (Dewan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia):
      Yang disunnahkan adalah menulisnya secara lengkap –shollallohu ‘alaihi wasallam- karena ini merupakan do'a. Do'a adalah bentuk ibadah, begitu juga mengucapkan kalimat sholawat ini.
      Penyingkatan terhadap sholawat dengan menggunakan huruf shod atau penyingkatan Salam dan Sholawat (seperti SAW, penyingkatan dalam Bahasa Indonesia -pent) tidaklah termasuk do'a dan bukanlah ibadah, baik ini diucapkan maupun ditulis. Dan juga karena penyingkatan yang demikian tidak pernah dilakukan oleh tiga generasi awal Islam yang keutamaannya dipersaksikan oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam.
      Wabillahit taufiq, dan semoga sholawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga serta para sahabat beliau.
      Dewan Tetap untuk Penelitian Islam dan Fatwa
      Ketua: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ibn Abdullooh Ibn Baaz;
      Anggota: Syaikh ‘Abdur-Rozzaaq ‘Afifi;
      Anggota: Syaikh ‘Abdullooh Ibn Ghudayyaan;
      Anggota: Syaikh ‘Abdullooh Ibn Qu’ood
      (Fataawa al-Lajnah ad-Daa.imah lil-Buhooth al-’Ilmiyyah wal-Iftaa., – Volume 12, Halaman 208, Pertanyaan ke-3 dariFatwa No.5069)
    4. Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baz rohimahulloh, " “Mengucapkan sholawat untuk Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam merupakan perkara yang disyariatkan. Di dalamnya terdapat faedah yang banyak. Di antaranya menjalankan perintah Alloh, menyepakati Alloh Subhanahu Wa ta’ala dan para malaikat-Nya yang juga bersholawat untuk Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, Alloh berfirman:
      “Sesungguhnya Alloh dan para malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah untuk Nabi dan ucapkanlah salam kepadanya.” (Al-Ahzab: 56)
      Faedah lainnya adalah melipat gandakan pahala orang yang bersholawat tersebut, adanya harapan doanya terkabul, dan bersholawat merupakan sebab diperolehnya berkah dan langgengnya kecintaan kepada Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam. Sebagaimana bersholawat menjadi sebab seorang hamba memperoleh hidayah dan hidup hatinya. Semakin banyak seseorang bersholawat kepada beliau shollallohu ‘alaihi wasallam dan mengingat beliau, akan semakin kental pula kecintaan kepada beliau di dalam hati. Sehingga tidak tersisa di hatinya penentangan terhadap sesuatu pun dari perintahnya dan tidak pula keraguan terhadap apa yang beliau sampaikan.
      Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam sendiri telah memberikan anjuran untuk mengucapkan sholawat atas beliau dalam beberapa hadits. Di antaranya hadits yang diriwayatkan Al-Imam Muslim dalam Shohih-nya dari Abu Huroirah Rodhiallohu'anhu, bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:
      “Siapa yang bersholawat untukku satu kali maka Alloh akan bersholawat untuknya sepuluh kali.”
      Dari hadits Abu Huroiroh rodhiallohu anhu juga, disebutkan bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:
      “Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan (Dengan tidak dikerjakan sholat sunnah di dalamnya, demikian pula Al-Qur’an tidak dibaca di dalamnya. (-pent.)) dan jangan kalian jadikan kuburanku sebagai id (tempat kumpul-kumpul -pent). Bersholawatlah untukku karena sholawat kalian sampai kepadaku di mana pun kalian berada.” [Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dan Abu Dawud, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud]
      Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam pernah pula bersabda: “Terhinalah seorang yang aku (namaku) disebut disisinya namun ia tidak mau bersholawat untukku.” [HR. At-Tirmidzi, kata Asy-Syaikh Muqbil dalam Ash-Shahihul Musnad Mimma Laisa fish Shahihain, “Hadits hasan gharib.”]
      Bersholawat untuk Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam disyariatkan dalam tasyahhud sholat, dalam khutbah, saat berdoa serta beristighfar. Demikian pula setelah adzan, ketika keluar serta masuk masjid, ketika mendengar nama beliau disebut, dan sebagainya.
      Perkaranya lebih ditekankan ketika menulis nama beliau dalam kitab, karya tulis, risalah, makalah, atau yang semisalnya berdasarkan dalil yang telah lewat. Ucapan sholawat ini disyariatkan untuk ditulis secara lengkap/sempurna dalam rangka menjalankan perintah Alloh Azza wa Jalla kepada kita dan agar pembaca mengingat untuk bersholawat ketika melewati tulisan sholawat tersebut. Tidak sepantasnya lafazh sholawat tersebut ditulis dengan singkatan misalnya shad1 islam Fatwa Larangan Penyingkatan Salam dan Shalawat atau slm1 islam Fatwa Larangan Penyingkatan Salam dan Shalawat ataupun singkatan-singkatan yang serupa dengannya, yang terkadang digunakan oleh sebagian penulis dan penyusun. Hal ini jelas menyelisihi perintah Alloh Azza wa Jalla dalam firman-Nya:
      “… bersholawatlah untuk Nabi dan ucapkanlah salam kepadanya.”
      Dan juga dengan menyingkat tulisan sholawat tidak akan sempurna maksudnya serta tidak diperoleh keutamaan sebagaimana bila menuliskannya secara sempurna. Terkadang pembaca tidak perhatian dengan singkatan tersebut atau tidak paham maksudnya.
      “Menyingkat lafazh sholawat ini dibenci oleh para ulama dan mereka memberikan peringatan akan hal ini.”
    5. Ibnu Sholah
      Ibnu Sholah dalam kitabnya ‘Ulumul Hadits yang lebih dikenal dengan Muqqodimah Ibnish Shalah mengatakan, “(Seorang yang belajar hadits ataupun ahlul hadits) hendaknya memperhatikan penulisan sholawat dan salam untuk Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bila melewatinya. Janganlah ia bosan menulisnya secara lengkap ketika berulang menyebut Rosululloh.”
      Ibnu Sholah juga berkata, “Hendaklah ia menjauhi dua kekurangan dalam penyebutan sholawat tersebut:
      Pertama, ia menuliskan lafazh sholawat dengan kurang, hanya meringkasnya dalam dua huruf atau semisalnya.
      Kedua, ia menuliskannya dengan makna yang kurang, misalnya ia tidak menuliskan wassalam islam Fatwa Larangan Penyingkatan Salam dan Shalawat
    6. Al-‘Allamah As-Sakhowi
      Al-‘Allamah As-Sakhowi dalam kitabnya Fathul Mughits Syarhu Alfiyatil Hadits lil ‘Iraqi, menyatakan, “Jauhilah wahai penulis, menuliskan sholawat dengan singkatan, dengan engkau menyingkatnya menjadi dua huruf dan semisalnya, sehingga bentuknya kurang. Sebagaimana hal ini dilakukan oleh orang jahil dari kalangan ajam (non Arab) secara umum dan penuntut ilmu yang awam. Mereka singkat lafazh sholawat dengan saw dan shad, Karena penulisannya kurang, berarti pahalanya pun kurang, berbeda dengan orang yang menuliskannya secara lengkap.
    7. Imam As-Suyuthi
      As-Suyuthi berkata dalam kitabnya Tadribur Rawi fi Syarhi Taqrib An-Nawawi, mengatakan, “Dibenci menyingkat sholawat dan salam dalam penulisan, baik dengan satu atau dua huruf seperti menulisnya dengan slm3, bahkan semestinya ditulis secara lengkap.”
      Inilah wasiat saya kepada setiap muslim dan pembaca juga penulis, agar mereka mencari yang utama atau afdhol, mencari yang di dalamnya ada tambahan pahala dan ganjaran, serta menjauhi perkara yang dapat membatalkan atau menguranginya.”
    Itulah Sebab dilarangnya menyingkat salam menjadi "As.WR.Wb, SAW, SWT dll. mungkin agak sedikit ribet tapi kan ada imbalan pahalanya dengan menulis secara lengkap sholawat dan salam atau pengagungan kepada Alloh Azawajalla, sebagai seorang muslim hendaknya kita belajar dari para Ulama Kibar yang mana mereka lebih ahli dan lebih banyak ilmu agamanya dari kita karena mereka para ulama adalah penerus Nabi yang melanjutkan dakwah Islamiyah. demikian yang ingin saya share kali ini semoga bermanfaat.

    44 comments:

    1. kunjungan perdana,salam kenal.
      postingnya bagus mengingatkan juga meluruskan.
      thanks yah....di tunggu kunjungannya

      ReplyDelete
    2. bener nih sobat.. masih banyak yang menyingkat salam. nggak tau dech, emang beneran nggak tau atau males mengetik salam lengkap..

      semoga postingan ini bisa menjadi pelajaran buat mereka..?

      ReplyDelete
      Replies
      1. amien..smoga bermanfaat..terimakasih kunjungannya

        Delete
    3. Terima kasih Mbak Atas pencerahannya. Mmg kadang waktu kondisi tergesa2 ato mmg males nulis, tanpa kita sadari kita menyingkat tulisan salam.

      ReplyDelete
      Replies
      1. sama sama sob...kalau sudah terbiasa pasti ga repot lagi...meskipun tergesa gesa...trims kunjungannya..

        Delete
    4. terimakasih banyaakk mba artikel nya sangat bermanfaat sekalii

      ReplyDelete
    5. assalam, salam ukhwah dari bunda

      ReplyDelete
    6. memang sudah menjadi kebiasaan sepertinya mbak dan memang harus diluruskan. saya sendiri juga kadang meringkas salam, Assalamu'alaikum wr wb..
      tapi yg paling parah kalau menyingkatnya seperti "Ass", coba bayangkan, dlm bhs inggris artinya kita sama2 tahu kan, masih banyak juga yg meringkas seperti itu

      ReplyDelete
      Replies
      1. bener sob terkadang kalau kita menyingkat salam, atau solawat, dll seperti pada artikel diatas, ada pembaca lain yang membaca singkatan itu dengan makna lain bahkan parahnya lagi kadang malah diterjemahkan kearah yang menghina salam atau menghina Alloh dan Rhosul-Nya

        Delete
    7. Menarik sekali membaca tulisan Anda. Baru pertama kali saya membaca ulasan seperti itu. Mengingatkan saya untuk mengubah kebiasaan yang sudah menjamur begitu lama. Terima kasih.

      ReplyDelete
      Replies
      1. Sama sama, terimakasih juga kunjungannya...

        Delete
    8. tuh kan, wawasan baru buat saya. saya forward ke temen2 ya Mbak

      ReplyDelete
      Replies
      1. bagus nih, saya juga udah print kemaren.

        Delete
      2. wa asyik nih.. artikelnya di taksir... kang zaf

        Delete
      3. lebih asyik lagi kalau ditaksir mas Payz0...he3

        Delete
    9. Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatu..
      Salam kenal sebelumnya kunjungan perdana nie.. dan terimakasih banget telah mengingatkan untuk tidak menyingkat kalimat salam, dll..

      ReplyDelete
      Replies
      1. wa alaikumsalam warohmatullohi wabarokatu..terimakasih juga kunjungannya..

        Delete
    10. komentarku terdahulu ditangkap sapam kayanya nih?

      ReplyDelete
      Replies
      1. ya sob ditangkap satpam blog ini..he3 ..maaf ya jadi saya g bisa terbitkan...

        Delete
      2. kalau ucapan salam memang sunnahnya saat kita berjumpa dengan saudara kita sesama muslim sob, kalau penulisan salam di hp/buku/diblog dll ya sebaiknya jangan disingkat kalau niatnya memang ingin mendo'akan saudara kita dengan ikhlas, kalau masalah hukumnya menyampaikan salam diawal setiap tulisan saya tidak tau belum pernah denger dalilnya, saya juga masih belajar sob...

        Delete
      3. nah tuh kan....ih satpamnya sangar deh ih...pasti kumis satpamnya melintang segede buldozer ya....hehehe

        ya udah atuh, ucapan salam di awal postingan saya...dilengkapkan saja gituh y?

        Delete
      4. ko tau sih bentuk satpamnya...jangan jangan dah belajar menerawang sama eyang subur ya...he3...
        itu lebih baik sob kalau ga mau kepanjangan ya cukup " Assalamualaikum"..

        Delete
      5. kesini lagi, dan saya dapet ilmu yang sreg kehati...segera akan diterapkan pada blog saya selanjutnya...haturnuhun nu sa'ageung ageung na.

        Delete
      6. sama sama sob...btw itu bahasa sunda ya sob..?

        Delete
    11. alhamdulillah saya tidak pernah menyingkat salam, untuk sholawat dan subhanahu wata'ala sring saya singkat, kedepannya saya tidak menyingkat lagi, terima kasih ilmu nya mbak

      ReplyDelete
      Replies
      1. sama sama sob...terimakasih kunjungannya..

        Delete
      2. sama2 mbak, lanjut terus nulis artikelnya biar saya tambah ngerti ilmunya

        Delete
      3. terimakasih dukungannya sob, terus terang saya agak was2 kalau menulis yang beginian takut ada yang fanatik sama ustad atau golongan tertentu yang mana mereka merasa paling benar sehingga tidak bisa di tegur walaupun terbukti salah...

        Delete
      4. dan semoga dengan tulisan mbak ini mereka jadi sadar karena mbak menulis dengan dasar yang jelas

        Delete
    12. di indonesia masih berlaku tulisan seperti itu. apa memang sudah kebiasaan ya..

      jangankan di FB, Blog atau jejaring lainya. di surat undangan aja masih banyak yang di singkat tulisanya.

      ReplyDelete
      Replies
      1. itu semua karena kurangnya pemahaman ilmu agama masyarakt indonesia, mayoritas umat muslim terbanyak tapi ilmunya ga sebanyak jumlah pemeluknya, dulu saya masih belum tau juga sama ko tapikan kita harus "sami'na wa ato'na" ( kami dengar kami taat). ini juga sebagai bukti bahwa Ilmu agama itu sangt penting karena masih banyak kesalahan2 yang dilakukan umat islam dalam hal ibadah yang tidak sesuai dengan syare'at islam yg sebenarnya..semoga kita semua diberi Hidayah oleh Alloh Subhanahu wata'ala..amien..

        Delete

    Tinggalkan jejak Anda dengan berkomentar yang baik untuk perkembangan blog ini agar menjadi lebih baik dan bermanfaat....
    Atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih

    Contact Us

    Name

    Email *

    Message *